Kamis, 21 April 2011

Bayi Tidak Bisa Tidur Kalau Ibunya Stres

Selasa, 01/03/2011 17:31 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Terkadang seorang ibu mengaku stres karena bayinya susah tidur malam. Pandangan ini ternyata keliru, sebenarnya bayi yang tidak bisa tidur karena tahu ibunya stres.

Jadi menurut peneliti, jangan di balik cara pandangnya. Bayi yang sulit tidur bukan penyebab ibunya stres, tapi si bayi tidak bisa tidur karena merasakan ibunya sedang stres.

Studi terbaru saat ini menunjukkan bahwa masalah emosi yang dialami oleh seorang ibu dan kebiasaan tidur bayi sangat berkaitan erat, bahkan pada orangtua yang sudah beberapa kali memiliki anak.

Sekitar dua per tiga ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan (postpartum depresion) akan memiliki bayi dengan pola tidur yang tidak baik.

Ibu yang depresi atau stres ini akan mengganggu kemampuannya dalam memberikan kehangatan emosional yang diperlukan dalam perkembangan bayi dan membantunya tertidur.

Kondisi ini akan membuat bayi yang memiliki ibu depresi atau stres akan memiliki masalah kurang tidur dibanding dengan bayi yang ibunya tidak stres.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang sulit tidur ternyata disebabkan pengaruh dari faktor emosional ibunya seperti dikutip dari Health.MSN.com, Selasa (1/3/2011).

Studi yang dilakukan Roseanne Armitage dan rekan dari University of Michigan menemukan bahwa bayi yang ibunya memiliki riwayat stres atau depresi akan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Si bayi jadi tidak bisa membedakan kapan waktunya tidur dan kapan waktunya bangun karena ibu yang stres tidak mampu memberikan kehangatan dan kenyamanan agar si bayi tidur.

Untuk itu menurut Harriet Hiscock, seorang dokter anak dari University of Melbourne, Australia ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar si kecil dapat tidur dengan baik yaitu:

  1. Biarkan bayi tertidur dengan gayanya sendiri
  2. Memiliki jam tidur yang konsisten mengenai kapan bayi harus tidur dan bangun
  3. Usahakan ibu memiliki suasana hati yang baik saat menggendong bayi, karena bayi bisa merasakan kecemasan atau ketakutan yang dialami si ibu
  4. Jika ibu sudah tenang, gendonglah bayi sehingga ia bisa merasakan detak jantung sang ibu dan memiliki kontak kulit langsung
  5. Ketika bayi menangis, tengoklah ia sejenak sampai ia merasa tenang kembali

Umumnya tingkat depresi yang dialami ibu akan jauh lebih rendah jika si kecil sudah berusia di atas 2 tahun. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Pediatrics.

(ver/ir)

Habis Minum Susu, Anak Sebaiknya Minum Air Putih

Rabu, 16/03/2011 17:06 WIB

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Kadar gula yang tinggi dalam susu formula bisa memicu pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang, terutama pada bayi dan anak-anak. Sesudah anak selesai minum susu, biasakan untuk 'membilas' mulutnya dengan minum segelas air putih.

Anjuran umum yang banyak dilakukan para orangtua ini dibenarkan oleh ahli gizi dari Universitas Indonesia, dr Samuel Oetoro, MS, SpGK dalam peluncuran kampanye Mulai Hidup Sehat dari Sekarang yang diprakarsai Danone-Aqua di XXI Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (16/3/2011).

"Susu mengandung karbohidrat dan laktosa (bentuk lain dari gula), yang bisa melekat di gigi lalu merusak lapisan email. Jadi anjuran itu benar, membersihkannya memang bisa dilakukan dengan kumur-kumur lalu minum air putih," ungkap dr Oetoro.

Di dalam mulut, gula menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan bakteri jahat yang bisa merusak email atau lapisan terluar gigi. Akibatnya gigi menjadi berlubang, membusuk atau caries dan bahkan bisa menyebabkan gusi bengkak karena infeksi.

Selain dipicu oleh susu, gigi berlubang juga disebabkan oleh makanan atau minuman lain yang juga mengandung gula. Apalagi bagi anak-anak yang masanya suka jajan, jenis makanan yang paling disukai umumnya makanan manis seperti permen dan gulali.

Gigi yang paling rentan mengalami pembusukan maupun berlubang biasanya adalah gigi geraham. Selain karena posisinya paling belakang, gigi geraham paling banyak memiliki alur dan celah yang kadang-kadang sulit dijangkau saat menggosok gigi.

Meski gigi anak belum permanen dan akan tanggal suatu saat nanti, namun jika berlubang maka tetap akan berdampak pada kualitas hidupnya. Misalnya jika terjadi infeksi, maka anak akan mengalami demam dan akibatnya tidak bisa bermain dan masuk sekolah.

(up/ir)

Agar Anak Doyan Makan Sayur

Minggu, 08/08/2010 09:50 WIB

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Ilustrasi (dok: thinkstock)
Bangkok, Sayuran mengandung banyak nutrisi penting, tetapi mengapa kebanyakan anak-anak tidak menyukainya? Dibutuhkan strategi yang tepat agar anak gemar dan terbiasa makan sayur, salah satunya dengan memperkenalkan Popeye sebagai tokoh idola.

Popeye sang pelaut merupakan tokoh kartun yang sudah populer sejak era 1930-an. Kemunculannya sering dikaitkan dengan propaganda makan sayur di kalangan anak-anak pada masa itu, sebab tokoh tersebut digambarkan senang makan bayam yang membuatnya menjadi sangat kuat hanya dalam sekejap.

Seorang peneliti dari Mahidol University di Bangkok membuktikan, propaganda dengan memanfaatkan multimedia semacam itu sangat efektif dalam meningkatkan konsumsi sayuran pada anak. Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung selama 8 pekan, ia memutarkan serial Popeye di sela-sela jam makan siang para murid TK.

Akibat terpengaruh oleh perilaku tokoh idola, asupan sayur dan buah pada anak meningkat 2 kali lipat setelah mengikuti program tersebut. Selain itu para orang tua juga melaporkan bahwa murid-murid TK merasa bangga telah mengkonsumsi sayur saat makan siang di sekolah.

Prof Chutima Sirikulchayanonta yang memimpin penelitian tersebut mengakui, pemutaran film kartun memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Sebab dalam eksperimen tersebut, ia memasukkan berbagai program interaktif seperti:
  1. Mengajak para murid menanam sayur bersama
  2. Mengadakan pesta kebun dengan menu sayur dan buah-buahan
  3. Tutorial memasak sup bagi para murid.
Sementara bagi para orang tua di rumah, Prof Chutima memberi catatan tentang beberapa hal yang bisa membuat anak makin gemar makan sayur. Dikutip dari Sciencedaily, Minggu (8/8/2010), beberapa catatan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Duduk di samping anak yang sedang makan sayur lalu ikut menyantap menu yang sama akan membuat anak merasa spesial
  2. Mencicipi bermacam-macam rasa buah dan sayuran adalah cara yang menyenangkan bagi anak untuk mengenal berbagai jenis makanan
  3. Melibatkan anak dalam tahap-tahap menyiapkan makanan, mulai dari emncuci dan memotong sayuran, hingga meracik bumbu akan menumbuhkan rasa menghargai makanan pada anak.
(up/ir)

Bayi Butuh Air 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Jumat, 18/03/2011 14:51 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Air merupakan salah satu kebutuhan setiap makhluk hidup. Tapi ternyata kebutuhan air untuk bayi sehat jumlahnya 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.

"Kebutuhan air bayi itu 10-15 persen dari berat badannya, sedangkan orang dewasa kebutuhannya 2-4 persen dari berat badannya. Berarti bayi sehat membutuhkan air 5 kali lipat lebih banyak dari orang dewasa," ujar dr Sudung O Pardede, SpA(K) dalam acara konferensi pers Hydration and Health di Hotel Gran Sahid Jaya, Jumat (18/3/2011).

dr Sudung mengungkapkan jumlah kebutuhan air bayi yang paling banyak berdasarkan usianya adalah neonatus (0-28 hari), lalu diikuti oleh bayi (0-12 bulan), anak-anak (1-18 tahun) dan orang dewasa. Sedangkan jika bayi dilahirkan dengan berat badan rendah (BBLR) maka kebutuhan airnya akan meningkat lagi.

"Kecepatan sikus air pada bayi sangat tinggi, karena itu bayi dan anak cenderung rawan terhadap penyakit yang menimbulkan dehidrasi," ujar dokter yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum PP-IDAI (Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Perbedaan antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan tubuh mencakup perbedaan komposisi, metabolisme dan derajat kematangan sistem pengaturan air serta elektrolitnya.

dr Sudung menuturkan secara klinik kebutuhan air pada bayi dan anak biasanya berdasarkan berat badan, salah satunya adalah menggunakan rumus Darrow yaitu:

  1. Anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, maka kebutuhan airnya adalah 100 ml/kg berat badannya. Misalnya anak dengan berat badan 8 kg, maka kebutuhannya adalah 8 x 100 ml = 800 ml.
  2. Anak dengan berat badan antara 10-20 kg, maka kebutuhan airnya adalah 1.000 ml + 50 ml setiap kenaikan berat badan diatas 10 kg. Misalnya anak dengan berat badan 15 kg, maka kebutuhannya adalah 1.000 ml + (50 ml x 5) = 1.250 ml.
  3. Anak dengan berat badan lebih dari 20, maka kebutuhan airnya adalah 1.500 ml + 20 ml setiap kenaikan berat badan di atas 20 kg. Misalnya anak dengan berat badan 30 kg, maka kebutuhan airnya 1.500 ml + (20 ml x 10) = 1.700 ml.

Perhitungan kebutuhan air pada anak juga bisa berdasarkan luas permukaan tubuh dan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.

Asupan air yang cukup untuk anak dapat membantu meringankan gejala konstipasi, diare dan demam. Untuk bayi atau anak yang demam, maka setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celsius maka asupan air ditambah sebanyak 12 persen, sedangkan pada neonatus yang menjalani terapi sinar diperlukan penambahan air sebesar 20 ml/kg berat badan setiap harinya.

"Jika bayi atau anak mengalami dehidrasi maka gejala yang muncul adalah mudah rewel, air mata berkurang, bibir kering, mata cekung, minum seperti orang kehausan dan jika kulit ditekan maka butuh waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula," imbuhnya.

Meski demikian beberapa bayi dan anak kadang susah jika disuruh minum air putih dan lebih memilih minuman lain yang berwarna atau memiliki rasa manis.

Untuk itu Dr dr Saptawati Bardosono, MSc memberikan tips agar anak mau minum air putih yaitu:

  1. Orangtua bisa memberikan air putih di dalam gelas yang dicampur dengan es batu.
  2. Orangtua juga bisa memberikan tambahan potongan-potongan buah dengan bentuk kecil yang lucu.
  3. Memberikan air putih di dalam botol dengan sedotan yang berwarna warni atau bentuk yang lucu.


(ver/ir)

Kapan Waktu yang Tepat Beri Makanan Padat pada Bayi?

Selasa, 19/04/2011 17:26 WIB

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau makanan padat tepat waktu pada bayi sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan pertumbuhannya secara keseluruhan. Kapan waktu yang tepat memberi bayi makanan padat?

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2002 menyebutkan bahwa 53 persen penyebab kematian anak di bawah 5 tahun adalah karena gizi buruk atau kurang. Dan dua pertiga diantaranya berhubungan dengan pemberian makanan yang kurang tepat.

"Dua pertiga atau sekitar 60 persen dari 10,9 juta anak di dunia mengalami feeding practise (cara pemberian makan) yang salah," jelas DR Damayanti R Sjarif, Dr. Sp.A(K), Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, dalam acara Media Briefing 'Stimulasi Keterampilan Oromotor pada Anak' di Restoran Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Selasa (19/4/2011).

Menurutnya, cara pemberian makanan yang salah antara lain disebabkan karena beberapa hal berikut:
  1. Pemberian ASI yang kurang optimal. "Kurang dari 35 persen anak di dunia yang bisa mendapatkan ASI eksklusif," jelas DR Yanti.
  2. Kualitas dan kuantitas MPASI yang rendah atau buruk
  3. Praktik pemberian makanan padat yang salah, terlalu dini atau terlambat.
  4. Makanan yang tercemar.

"Usia 6-9 bulan adalah waktu terbaik untuk mengajarkan anak makanan padat. MPASI paling lambat diberikan di usia 6 bulan. Karena pada usia tersebut ASI sudah tidak mencukupi lagi untuk mikronutrien seperti zat besi, zinc, fosfat, magnesium dan natrium, sehingga harus ditunjang dengan MPASI. Jadi nggak boleh terlalu lamam memberi MPASI," lanjut DR Yanti yang juga dokter dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Dept. Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM.

Menurut DR Yanti, setelah usia 6 bulan terjadi gap atau kekurangan energi untuk mendukung aktivitas bayi yang semakin aktif, sedangkan pada waktu yang bersamaan produksi ASI semakin berkurang.

Disinilah adanya fase kritis pertama pengenalan makanan padat, yang ditambahkan selain ASI yang biasa disebut MPASI, untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI atau PASI (pengganti ASI atau susu formula bayi).

"Semakin terlambat pengenalan MPASI semakin besar gap kebutuhan energi yang terjadi. Tapi pemberian MPASI juga tidak boleh terlalu dini karena sistem pencernaan bayi belum siap," jelas DR Yanti.

Apa akibatnya bila makanan padat diberikan terlalu dini atau terlambat?

Terlalu dini
  1. Risiko diare, dehidrasi
  2. Produksi ASI menurun karena kurangnya stimulasi
  3. Sensitif alergi
  4. Gangguan tumbuh kembang.

Terlambat
  1. Potensial untuk terjadinya gagal tumbuh, menyebabkan stunting atau pendek
  2. Defisiensi atau kekurangan zat besi
  3. Gangguan tumbuh kembang.

"Pada usia 6 sampai 9 bulan bayi punya fase makan makanan keras yang bertekstur, kalau anak tidak diajarkan harus berhati-hati karena dampaknya bisa membuat anak susah makan di kemudian hari. Setelah usia ini, ketika anak masuk usia 1 tahun lebih, dia lebih suka main ketimbang makan. Dan ini seringkali terjadi anak menjadi susah makan karena terlambat diajarkan makan makanan padat," jelas DR Yanti.




(mer/ir)

Kebiasaan Bayi Masukkan Tangan ke Mulut Bisa Melatih Kemampuan Makan

Selasa, 19/04/2011 15:29 WIB

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Banyak ibu yang khawatir dengan kebiasaan bayi yang suka memasukkan tangan ke dalam mulutnya karena dianggap kotor. Padahal kebiasaan tersebut bisa membantu bayi melatih kemampuan makannya kelak.

Hal ini disampaikan oleh DR Damayanti R Sjarif, Dr. Sp.A(K), Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, dalam acara Media Briefing 'Stimulasi Keterampilan Oromotor pada Anak' di Restoran Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Selasa (19/4/2011).

"Pada bayi ada yang namanya Gag Reflex, yaitu refleks yang bikin dia mau muntah bila dimasukkan sesuatu ke mulut. Nah pada saat awal-awal, Gag Reflex ini ada di bagian depan mulutnya, dengan dia terbiasa mainan atau memasukkan tangannya ke mulut, maka Gag Reflex ini lama-lama akan semakin kebelakang," jelas DR Yanti.

Menurut DR Yanti, Gag Reflex atau refleks muntah ini memungkinkan bayi menunjukkan ekspresi ingin muntah pada awal-awal. Tapi kebiasaan ini ternyata berguna untuk melatih bayi bisa secara mandiri makan dengan menggunakan sendok.

"Awal-awalnya dia akan muntah waktu memasukkan tangan ke mulut karena Gag Reflexnya masih ada di bagian depan. Tapi dengan dia terbiasa, Gag Reflexnya akan mundur. Jadi ketika dia diajarkan makan dengan sendok dia nggak muntah-muntah lagi," jelas DR Yanti yang juga dokter dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Dept. Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM.

Sayangnya, lanjut DR Yanti, ibu-ibu yang terlalu bersih sering merasa takut kalau melihat anaknya memasukkan tangan ke dalam mulut, karena dianggap kotor dan bisa membahayakan.

"Padahal bayi memasukkan tangan ke mulut itu sangat alamiah. Ini untuk menyiapkannya agar bisa makan," jelas DR Yanti.

Oleh karena itu, DR Yanti menyarankan sebaiknya ibu-ibu bisa membiarkan kebiasaan alamiah bayi tersebut, asalkan kebersihan tangannya selalu dijaga.

"Saya juga merekomendasikan ibu-ibu untuk tidak mengenakan sarung tangan pada bayinya, kalau sarung kaki bolehlah. Ini karena memang alamiah bayi suka memasukkan tangan ke dalam mulut. Asal bersih itu malah bisa melatih bayi," tutur DR Yanti.

(mer/ir)