Rabu, 27/04/2011 14:02 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Terkadang orangtua terlalu memanjakan anaknya dengan cara selalu membantunya melakukan segala hal, termasuk mengancingkan baju. Tapi jika anak sudah berusia 3 tahun sebaiknya ia dapat mengancingkan bajunya sendiri.
"Usia 3-5 tahun harus bisa mengacingkan baju, latihlah anak dan jangan segala sesuatu tergantung dengan mba," ujar dr Attila Dewanti, SpA dalam acara media edukasi 'Alergi Susu Sapi Bukan Penghalang Pertumbuhan Anak' di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (27/4/2011).
dr Attila menuturkan karena kalau ia belum bisa pasang dan buka kancing sendiri nantinya dia akan memegang pensil atau krayon dengan tidak benar, hal ini akan mempengaruhi kemampuannya untuk menulis.
"Jika hal ini terjadi, nantinya dia akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menstimulasinya agar bisa memegang pensil dengan benar, jadi bisa buang-buang waktu selama 6 bulan untuk menstimulasinya," ujar dokter yang berpraktik di Brawijaya Women & Children Hospital.
Selain itu orangtua juga sebaiknya tidak terlalu sering menggendong anak, biasanya jika cucu atau anak pertama selalu digendong. Serta sebaiknya jangan menggunakan baby walker.
"Beri keleluasaan pada anak untuk bergerak, biarkan saja anak main asal tetap dipantau dan memberikan lingkungan yang aman bagi anak," ungkap dr Attila.
Hal ini karena pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi dan juga lingkungan yang berupa stimulasi atau rangsangan yang diterima si kecil dari luar.
"Jika anak sedang belajar berbicara, jangan hanya menyuruh anak mengucapkan suku kata terakhir saja. Misalnya 'Itu apa sayang, ku-cing' tapi beritahu anak 'Itu apa sayang, kucing'. Karena nanti anak tahunya itu cing, yam," ungkapnya.
dr Attila juga menyarankan bagi para orangtua agar memantau setiap bulan perkembangan anak mulai dari motorik kasar, motorik halus, perkembangan kognisi, perkembangan bicara serta sosial kemandiriannya.
(ver/ir)
Senin, 27 Juni 2011
Jika si Kecil Perutnya Buncit
Selasa, 24/05/2011 12:43 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Masalah perut buncit saat ini lebih banyak terfokus pada orang dewasa, padahal anak-anak kecil sekarang juga banyak yang perutnya sudah buncit. Kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan dan harus diatasi.
Studi menunjukkan masalah perut buncit pada anak-anak telah meningkat hingga 65 persen dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini bukanlah pertanda baik karena bisa menjadi faktor risiko dari sejumlah penyakit.
Lemak yang ada di perut sering dianggap sebagai prediktor dari penyakit jantung serta risiko diabetes. Dan anak-anak yang memiliki perut buncit jika dibiarkan saja akan meningkatkan risiko menjadi obesitas.
Umumnya anak-anak zaman sekarang mengonsumsi makanan junk food yang diketahui tinggi lemak dan penyebab masalah, serta konsumsi makanan yang tidak bernutrisi. Kondisi ini bertanggung jawab terhadap akumulasi lemak di tubuh.
Seringkali orangtua tidak memiliki waktu untuk menyediakan makanan segar sehingga memberikan makanan olahan. Semua makanan yang kaya akan kalori ini diubah menjadi lemak dan disimpan di bagian tubuh berbeda, yang kebanyakan terjadi di sekitar perut.
Selain itu saat ini anak-anak lebih sering menghabiskan waktu di depan televisi atau komputer dan jarang melakukan aktivitas fisik, sehingga lemak yang tertumpuk di perut tidak dibuang dan akan terus terakumulasi.
"Saat ini mengukur ukuran pinggang anak-anak belum menjadi hal vital yang dilakukan pada setiap pemeriksaan," ujar Stephen Cook, MD dari University of Rochester Medical Center's Golisano Children's Hospital, seperti dikutip dari WebMD, Selasa (24/5/2011).
Namun kini mengukur pinggang anak-anak menjadi hal penting, terutama pada anak yang memiliki rasio pinggang dan tinggi badan di persentil 90 atau lebih sebagai indikator obesitas perut.
Sebagai orangtua, perubahan pertama yang harus dilakukan pada anak adalah:
1. Menghilangkan lemak perut dengan mengurangi konsumsi makanan tidak sehat. Awalnya mungkin anak akan menolak tapi cobalah untuk bersikap memberi pengertian yang disertai contoh nyata dari bahaya lemak di perut dan sedikit peraturan ketat.
2. Jika anak memang suka jajan, cobalah menyisihkan waktu untuk membuat jajanan yang menarik buat anak dengan menggunakan bahan yang lebih bergizi dan segar.
3. Memperbanyak aktivitas fisik bagi anak seperti mengajak jalan di taman, mencuci mobil atau bermain bersama binatang peliharaan.
4. Sebaiknya tidak memberikan diet terlalu ketat karena bisa menyebabkan anak kekurangan gizi nantinya. Tapi doronglah anak untuk mengonsumsi makanan sehat dan memberinya contoh agar diikuti oleh anak. Dengan begitu akan mengurangi risiko anak terkena beberapa penyakit.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Masalah perut buncit saat ini lebih banyak terfokus pada orang dewasa, padahal anak-anak kecil sekarang juga banyak yang perutnya sudah buncit. Kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan dan harus diatasi.
Studi menunjukkan masalah perut buncit pada anak-anak telah meningkat hingga 65 persen dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini bukanlah pertanda baik karena bisa menjadi faktor risiko dari sejumlah penyakit.
Lemak yang ada di perut sering dianggap sebagai prediktor dari penyakit jantung serta risiko diabetes. Dan anak-anak yang memiliki perut buncit jika dibiarkan saja akan meningkatkan risiko menjadi obesitas.
Umumnya anak-anak zaman sekarang mengonsumsi makanan junk food yang diketahui tinggi lemak dan penyebab masalah, serta konsumsi makanan yang tidak bernutrisi. Kondisi ini bertanggung jawab terhadap akumulasi lemak di tubuh.
Seringkali orangtua tidak memiliki waktu untuk menyediakan makanan segar sehingga memberikan makanan olahan. Semua makanan yang kaya akan kalori ini diubah menjadi lemak dan disimpan di bagian tubuh berbeda, yang kebanyakan terjadi di sekitar perut.
Selain itu saat ini anak-anak lebih sering menghabiskan waktu di depan televisi atau komputer dan jarang melakukan aktivitas fisik, sehingga lemak yang tertumpuk di perut tidak dibuang dan akan terus terakumulasi.
"Saat ini mengukur ukuran pinggang anak-anak belum menjadi hal vital yang dilakukan pada setiap pemeriksaan," ujar Stephen Cook, MD dari University of Rochester Medical Center's Golisano Children's Hospital, seperti dikutip dari WebMD, Selasa (24/5/2011).
Namun kini mengukur pinggang anak-anak menjadi hal penting, terutama pada anak yang memiliki rasio pinggang dan tinggi badan di persentil 90 atau lebih sebagai indikator obesitas perut.
Sebagai orangtua, perubahan pertama yang harus dilakukan pada anak adalah:
1. Menghilangkan lemak perut dengan mengurangi konsumsi makanan tidak sehat. Awalnya mungkin anak akan menolak tapi cobalah untuk bersikap memberi pengertian yang disertai contoh nyata dari bahaya lemak di perut dan sedikit peraturan ketat.
2. Jika anak memang suka jajan, cobalah menyisihkan waktu untuk membuat jajanan yang menarik buat anak dengan menggunakan bahan yang lebih bergizi dan segar.
3. Memperbanyak aktivitas fisik bagi anak seperti mengajak jalan di taman, mencuci mobil atau bermain bersama binatang peliharaan.
4. Sebaiknya tidak memberikan diet terlalu ketat karena bisa menyebabkan anak kekurangan gizi nantinya. Tapi doronglah anak untuk mengonsumsi makanan sehat dan memberinya contoh agar diikuti oleh anak. Dengan begitu akan mengurangi risiko anak terkena beberapa penyakit.
(ver/ir)
Melatih Oral Motor Anak Agar Bisa Makan dengan Benar
Rabu, 25/05/2011 17:04 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Makan adalah kebutuhan dasar setiap manusia dan termasuk kegiatan yang kompleks. Untuk itu sangat penting memberikan stimulasi oromotor (oral motor) pada bayi agar ia bisa makan dengan cara yang benar.
Saat memasuki usia 6 bulan ke atas, bayi akan diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan tingkatan tektur tertentu sesuai tahapan perkembangannya. Tahap pengenalan makanan bertekstur inilah yang menunjang keterampilan makan bayi dan menjadi dasar pengembangan stimulasi kemampuan oromotornya.
Oromotor atau oral motor didefinisikan sebagai sistem gerak otot yang mencakup area rongga mulut (oral cavity) termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi. Kematangan oral motor umumnya terjadi pada usia 4-6 bulan, dan dilanjutkan dengan pemberian stimulasi untuk mengembangkannya.
Pada bayi usia 6-18 bulan kekuatan, koordinasi dan kontrol dari struktur mulut ini yang menjadi dasar dari kegiatan makan seperti menghisap, menelan, menggigit dan mengunyah.
"Stimulasi yang tepat pada oromotor erat kaitannya dengan perkembangan keterampilan makan anak sejak usia dini," ujar DR Damayanti R Sjarif, Dr. Sp.A(K) selaku konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam rilis Pentingnya Stimulasi Oromotor dan Gizi Seimbang yang diterima detikHealth, Rabu (25/5/2011).
Dr Damayanti menuturkan kurangnya stimulasi oromotor bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku anak seperti milih-milih makanan (picky eater) serta faktor lain termasuk psikologis dan lingkungan.
"Selain itu perkembangan oral motor ini juga diperlukan untuk mendukung kemampuan makan dan juga kemampuan bicara anak," ungkap dokter yang juga ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI.
untuk menstimulasi kepandaian mengunyah dengan berbagai makanan maka perlu mengenali perkembangan oral motor sesuai usia serta makanan yang tepat untuk menstimulasi kemampuan mengunyah. Makanan yang tepat akan menstimulasi otot-otot mulut sehingga lebih kuat dan mampu digunakan untuk makan dan bicara.
Makanan yang diberikan pertama kali adalah yang paling mudah dikunyah dan dicampur dengan cairan seperti ASI atau biasa disebut dengan bubur ASI. Pada usia 7-9 bulan mulai diberikan makanan semi-padat yang lebih bertekstur dan memerlukan keterampilan mengunyah.
Usia 9-12 bulan keterampilan mengunyahnya semakin sempurna dan bisa memegang sendiri, sehingga bisa diberikan finger food. Saat usia 1-3 tahun anak akan berusaha makan sendiri dan stimulasi ini bisa membantu kemandirian anak.
Dr Damayanti menuturkan ada 8 faktor yang mempengaruhi mudah atau sulitnya makanan dikunyah, yaitu:
Tahanan, mudah atau tidaknya makanan dikunyah
Sensoris, makanan yang renyah, berbumbu, asam, pahit, dingin, lebih merangsang gerakan mengunyah
Ukuran, ketebalan dan diameter
Bentuk, mudah tidaknya diletakkan di dekat geraham (lateral)
Tekstur, tekstur yang mudah tersebar akan lebih sulit dikunyah
Konsistensi, konsistensi tunggal lebih mudah daripada beragam
Penempatan makanan di mulut, penempatan dekat gigi geraham (lateral) lebih mudah dikunyah daripada di depan dekat gigi taring)
Transfer, jumlah kunyahan yang diperlukan sebelum ditelan.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Makan adalah kebutuhan dasar setiap manusia dan termasuk kegiatan yang kompleks. Untuk itu sangat penting memberikan stimulasi oromotor (oral motor) pada bayi agar ia bisa makan dengan cara yang benar.
Saat memasuki usia 6 bulan ke atas, bayi akan diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan tingkatan tektur tertentu sesuai tahapan perkembangannya. Tahap pengenalan makanan bertekstur inilah yang menunjang keterampilan makan bayi dan menjadi dasar pengembangan stimulasi kemampuan oromotornya.
Oromotor atau oral motor didefinisikan sebagai sistem gerak otot yang mencakup area rongga mulut (oral cavity) termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi. Kematangan oral motor umumnya terjadi pada usia 4-6 bulan, dan dilanjutkan dengan pemberian stimulasi untuk mengembangkannya.
Pada bayi usia 6-18 bulan kekuatan, koordinasi dan kontrol dari struktur mulut ini yang menjadi dasar dari kegiatan makan seperti menghisap, menelan, menggigit dan mengunyah.
"Stimulasi yang tepat pada oromotor erat kaitannya dengan perkembangan keterampilan makan anak sejak usia dini," ujar DR Damayanti R Sjarif, Dr. Sp.A(K) selaku konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam rilis Pentingnya Stimulasi Oromotor dan Gizi Seimbang yang diterima detikHealth, Rabu (25/5/2011).
Dr Damayanti menuturkan kurangnya stimulasi oromotor bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku anak seperti milih-milih makanan (picky eater) serta faktor lain termasuk psikologis dan lingkungan.
"Selain itu perkembangan oral motor ini juga diperlukan untuk mendukung kemampuan makan dan juga kemampuan bicara anak," ungkap dokter yang juga ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI.
untuk menstimulasi kepandaian mengunyah dengan berbagai makanan maka perlu mengenali perkembangan oral motor sesuai usia serta makanan yang tepat untuk menstimulasi kemampuan mengunyah. Makanan yang tepat akan menstimulasi otot-otot mulut sehingga lebih kuat dan mampu digunakan untuk makan dan bicara.
Makanan yang diberikan pertama kali adalah yang paling mudah dikunyah dan dicampur dengan cairan seperti ASI atau biasa disebut dengan bubur ASI. Pada usia 7-9 bulan mulai diberikan makanan semi-padat yang lebih bertekstur dan memerlukan keterampilan mengunyah.
Usia 9-12 bulan keterampilan mengunyahnya semakin sempurna dan bisa memegang sendiri, sehingga bisa diberikan finger food. Saat usia 1-3 tahun anak akan berusaha makan sendiri dan stimulasi ini bisa membantu kemandirian anak.
Dr Damayanti menuturkan ada 8 faktor yang mempengaruhi mudah atau sulitnya makanan dikunyah, yaitu:
Tahanan, mudah atau tidaknya makanan dikunyah
Sensoris, makanan yang renyah, berbumbu, asam, pahit, dingin, lebih merangsang gerakan mengunyah
Ukuran, ketebalan dan diameter
Bentuk, mudah tidaknya diletakkan di dekat geraham (lateral)
Tekstur, tekstur yang mudah tersebar akan lebih sulit dikunyah
Konsistensi, konsistensi tunggal lebih mudah daripada beragam
Penempatan makanan di mulut, penempatan dekat gigi geraham (lateral) lebih mudah dikunyah daripada di depan dekat gigi taring)
Transfer, jumlah kunyahan yang diperlukan sebelum ditelan.
(ver/ir)
Obat yang Membunuh Semua Kanker Ditemukan?
Senin, 27/06/2011 10:02 WIB
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Kabar baik dari dunia medis, ilmuwan telah menemukan jalan untuk membuat obat yang bisa mematikan semua jenis kanker tanpa merusak sel-sel yang sehat. Jika obat yang bisa membunuh semua jenis kanker ini berhasil diproduksi maka tak perlu banyak-banyak obat untuk masing-masing kanker.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat memudahkan segala hal, termasuk dalam pengobatan kanker. Salah satu obat untuk kanker payudara kini dikembangkan agar bisa menyembuhkan segala jenis kanker dengan efek samping seminimal mungkin.
Obat tersebut termasuk golongan PARP Inhibitor (penghambat enzim Poly ADP ribose polymerase), yang selama ini cukup efektif mengatasi kanker payudara. Dengan sedikit memodifikasi cara kerjanya, obat ini diharapkan bisa menjadi obat super untuk segala jenis kanker.
Efek samping obat ini tergolong lebih ringan dibanding obat kemoterapi lainnya karena tidak membunuh sel kanker secara radikal. Sel-sel sehat di sekitarnya tetap aman dan dilaporkan jarang memicu mual muntah seperti yang sering dialami pasien kemoterapi.
Para peneliti dari Newcastle University mengungkap, PARP Inhibitor bekerja dengan menyerang salah satu kelemahan sel kanker payudara yakni pada gen BRCA1. Gen ini membatasi kemampuan sel kanker untuk memperbaiki sendiri susunan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) yang rusak.
Beberapa jenis kanker payudara memiliki gen ini dalam jumlah banyak, sehingga PARP Inhibitor bisa melumpuhkannya dengan efek samping lebih ringan dibanding obat-obat kemoterapi pada umumnya. Gen ini juga ditemukan dalam kanker rahim dan prostat, namun dalam jumlah lebih kecil.
Dengan sedikit modifikasi, PARP Inhibitor kini bisa menghambat gen-gen dengan mekanisme yang sama dengan BRCA1 sehingga tak hanya spesifik pada kanker payudara, rahim dan prostat. Target baru yang bisa diserang dengan PARP Inhibitor adalah gen baru bernama Cdk1.
Gen baru ini memiliki cara kerja yang sama dengan BRCA1 yakni menghambat kemampuan DNA sek kanker untuk memperbaiki diri. Bedanya, gen Cdk1 ditemukan pada jenis tumor yang lebih beragam, atau bahkan dikatakan hampir semua jenis tumor punya gen ini.
"Menghambat Cdk1 berarti menghambat mekanisme perbaikan DNA pada sel kanker. Ini akan membuat sel kanker lebih sensitif terhadap PARP Inhibitor, dalam arti lebih mudah dimatikan," ungkap salah satu peneliti, Prof Nicola Curtin seperti dikutip dari Dailymail, Senin (27/6/2011).
Karena masih sangat baru, obat super hasil modifikasi ini memang belum diujikan pada manusia. Namun uji coba pada mencit menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, yakni mampu memperkecil ukuran kanker paru-paru, salah satu jenis kanker paling mematikan pada manusia.
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Kabar baik dari dunia medis, ilmuwan telah menemukan jalan untuk membuat obat yang bisa mematikan semua jenis kanker tanpa merusak sel-sel yang sehat. Jika obat yang bisa membunuh semua jenis kanker ini berhasil diproduksi maka tak perlu banyak-banyak obat untuk masing-masing kanker.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat memudahkan segala hal, termasuk dalam pengobatan kanker. Salah satu obat untuk kanker payudara kini dikembangkan agar bisa menyembuhkan segala jenis kanker dengan efek samping seminimal mungkin.
Obat tersebut termasuk golongan PARP Inhibitor (penghambat enzim Poly ADP ribose polymerase), yang selama ini cukup efektif mengatasi kanker payudara. Dengan sedikit memodifikasi cara kerjanya, obat ini diharapkan bisa menjadi obat super untuk segala jenis kanker.
Efek samping obat ini tergolong lebih ringan dibanding obat kemoterapi lainnya karena tidak membunuh sel kanker secara radikal. Sel-sel sehat di sekitarnya tetap aman dan dilaporkan jarang memicu mual muntah seperti yang sering dialami pasien kemoterapi.
Para peneliti dari Newcastle University mengungkap, PARP Inhibitor bekerja dengan menyerang salah satu kelemahan sel kanker payudara yakni pada gen BRCA1. Gen ini membatasi kemampuan sel kanker untuk memperbaiki sendiri susunan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) yang rusak.
Beberapa jenis kanker payudara memiliki gen ini dalam jumlah banyak, sehingga PARP Inhibitor bisa melumpuhkannya dengan efek samping lebih ringan dibanding obat-obat kemoterapi pada umumnya. Gen ini juga ditemukan dalam kanker rahim dan prostat, namun dalam jumlah lebih kecil.
Dengan sedikit modifikasi, PARP Inhibitor kini bisa menghambat gen-gen dengan mekanisme yang sama dengan BRCA1 sehingga tak hanya spesifik pada kanker payudara, rahim dan prostat. Target baru yang bisa diserang dengan PARP Inhibitor adalah gen baru bernama Cdk1.
Gen baru ini memiliki cara kerja yang sama dengan BRCA1 yakni menghambat kemampuan DNA sek kanker untuk memperbaiki diri. Bedanya, gen Cdk1 ditemukan pada jenis tumor yang lebih beragam, atau bahkan dikatakan hampir semua jenis tumor punya gen ini.
"Menghambat Cdk1 berarti menghambat mekanisme perbaikan DNA pada sel kanker. Ini akan membuat sel kanker lebih sensitif terhadap PARP Inhibitor, dalam arti lebih mudah dimatikan," ungkap salah satu peneliti, Prof Nicola Curtin seperti dikutip dari Dailymail, Senin (27/6/2011).
Karena masih sangat baru, obat super hasil modifikasi ini memang belum diujikan pada manusia. Namun uji coba pada mencit menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, yakni mampu memperkecil ukuran kanker paru-paru, salah satu jenis kanker paling mematikan pada manusia.
Ini Manfaat Tidur Siang Buat Anak
Jumat, 17/06/2011 14:24 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Tidur siang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh bayi atau anak-anak selama masa pertumbuhan. Sebenarnya apa manfaat yang didapatkan si kecil jika ia tidur siang?
Tidur merupakan kebutuhan utama yang baik bagi kesehatan, dan untuk anak-anak penting mendapatkan waktu tidur yang cukup termasuk tidur di siang hari. Hal ini karena tidur membantu pertumbuhan dan proses peremajaan yang terjadi pada anak.
Anak-anak yang rutin melakukan tidur siang bisa mendapatkan beberapa manfaat, seperti dikutip dari Kidshealth, Jumat (17/6/2011) yaitu:
Membantu menjaga anak agar tidak terlalu lelah yang bisa mempengaruhi suasana hatinya seperti rewel dan mudah marah
Membantu meningkatkan memori anak yang membuat otak kembali fresh sehingga ia akan lebih mudah menerima rangsangan yang diberikan
Memberikan tubuh si kecil kesempatan untuk beristirahat
Kebutuhan tidur anak-anak sangat individual, biasanya dipengaruhi oleh faktor usia. Namun tidur siang yang dilakukan sebaiknya tidak terlalu lama, karena nantinya juga bisa memberikan efek yang buruk.
Biasanya bayi yang berusia di bawah 1 tahun memiliki waktu tidur siang 2-3 kali dengan total waktu tidur sekitar 3-4 jam. Untuk batita membutuhkan waktu tidur 1-3 jam yang terbagi dalam 2 kali tidur siang, sedangkan untuk balita umumnya hanya 1 kali tidur siang. Sebagian besar anak akan berhenti tidur siang setelah berusia di atas 5 tahun.
Salah satu kunci agar anak bisa mendapatkan tidur siang yang baik adalah memiliki rutinitas yang sama sejak awal dan berpegang teguh pada hal tersebut. Pada bayi perhatikan isyarat yang muncul seperti mulai rewel dan menggosok-gosokkan mata.
Jika si kecil sulit tidur, cobalah membantunya dengan memberikan musik yang lembut, meredupkan lampu sehingga bisa merangsang keluarnya hormon melatonin atau membacakan cerita yang bisa memberinya kenyamanan.
Beberapa orangtua khawatir tidur siang yang dilakukan si kecil bisa mengganggu tidur malamnya. Untuk mencegah hal tersebut usahakan tidak membiarkan anak tidur siang mendekati waktu tidur malamnya, atau bisa juga dengan membangunkannya lebih awal sehingga membuat anak memiliki aktivitas lagi sebelum tidur malam. Dengan kata lain cobalah membuat beberapa penyesuaian dengan kondisi anak.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Tidur siang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh bayi atau anak-anak selama masa pertumbuhan. Sebenarnya apa manfaat yang didapatkan si kecil jika ia tidur siang?
Tidur merupakan kebutuhan utama yang baik bagi kesehatan, dan untuk anak-anak penting mendapatkan waktu tidur yang cukup termasuk tidur di siang hari. Hal ini karena tidur membantu pertumbuhan dan proses peremajaan yang terjadi pada anak.
Anak-anak yang rutin melakukan tidur siang bisa mendapatkan beberapa manfaat, seperti dikutip dari Kidshealth, Jumat (17/6/2011) yaitu:
Membantu menjaga anak agar tidak terlalu lelah yang bisa mempengaruhi suasana hatinya seperti rewel dan mudah marah
Membantu meningkatkan memori anak yang membuat otak kembali fresh sehingga ia akan lebih mudah menerima rangsangan yang diberikan
Memberikan tubuh si kecil kesempatan untuk beristirahat
Kebutuhan tidur anak-anak sangat individual, biasanya dipengaruhi oleh faktor usia. Namun tidur siang yang dilakukan sebaiknya tidak terlalu lama, karena nantinya juga bisa memberikan efek yang buruk.
Biasanya bayi yang berusia di bawah 1 tahun memiliki waktu tidur siang 2-3 kali dengan total waktu tidur sekitar 3-4 jam. Untuk batita membutuhkan waktu tidur 1-3 jam yang terbagi dalam 2 kali tidur siang, sedangkan untuk balita umumnya hanya 1 kali tidur siang. Sebagian besar anak akan berhenti tidur siang setelah berusia di atas 5 tahun.
Salah satu kunci agar anak bisa mendapatkan tidur siang yang baik adalah memiliki rutinitas yang sama sejak awal dan berpegang teguh pada hal tersebut. Pada bayi perhatikan isyarat yang muncul seperti mulai rewel dan menggosok-gosokkan mata.
Jika si kecil sulit tidur, cobalah membantunya dengan memberikan musik yang lembut, meredupkan lampu sehingga bisa merangsang keluarnya hormon melatonin atau membacakan cerita yang bisa memberinya kenyamanan.
Beberapa orangtua khawatir tidur siang yang dilakukan si kecil bisa mengganggu tidur malamnya. Untuk mencegah hal tersebut usahakan tidak membiarkan anak tidur siang mendekati waktu tidur malamnya, atau bisa juga dengan membangunkannya lebih awal sehingga membuat anak memiliki aktivitas lagi sebelum tidur malam. Dengan kata lain cobalah membuat beberapa penyesuaian dengan kondisi anak.
(ver/ir)
Standar Kemampuan Berbahasa untuk Batita
Senin, 13/06/2011 14:17 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)Jakarta, Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya lancar berbicara. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini adalah mendorongnya untuk belajar dan mengetahui standar perkembangan anak. Berikut standar kemampuan berbahasa anak usia di bawah 3 tahun (batita).
Penelitian menunjukkan bahwa 3 tahun pertama adalah waktu yang tepat untuk perkembangan bahasa intensif anak. Para ahli menyarankan untuk mendorong perkembangan bahasa anak di awal-awal kehidupannya melalui berbicara, menyanyi dan membaca.
Hal lain yang bisa memberikan bantuan penting dalam pengembangan bahasa anak adalah mendengarkan apa yang bisa diucapkan si kecil.
Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi patokan dalam mengembangkan kemampuan berbicara anak, seperti dikutip dari eHow, Senin (13/6/2011) yaitu:
1. Usia 5 bulan
Pada saat bayi berusia 1-5 bulan ia mulai belajar mengenai suara keras, mengenali suara-suara yang akrab didengarnya serta menangis untuk berbagai alasan yang berbeda. Setelah bayi berusia di atas 5 bulan maka ia akan memutar kepalanya ke arah suara dan fokus pada wajah orang yang berbicara tersebut.
2. Usia 1 tahun
Umumnya bayi mulai memiliki kesenangan untuk mencoba meniru suara orang lain. Para peneliti dari Mayo Clinic mengungkapkan bahwa bayi mulai mengerti arti kata 'tidak' dan perintah sederhana seperti 'Minumlah susunya sampai habis'. Selain itu ia akan mengeluarkan suara seperti 'Mama' atau 'Dahdah'.
3. Usia 2 tahun
Balita mulai bisa mengucapkan lebih dari 1-2 kata secara bersama-sama, kosakatanya mulai meningkat menjadi 8-10 kata dan ia bisa mengenal kata-kata untuk bagian tubuh seperti menunjuk kepala atau perut. Pada usia ini balita juga lebih jelas mengucapkan suara huruf 'n', 'm', 'p' dan 'h', serta bisa menjawab pertanyaan melalui bahasa tubuh.
4. Usia 3 tahun
Pada usia ini kosakatanya meningkat sekitar 50 kata, mulai menggunakan kata sifat seperti 'besar' atau 'bahagia', menggunakan nada yang meninggi di akhir kalimat serta menggunakan kata ganti. Orang lain yang mendengar balita ini berbicara mungkin tidak terlalu banyak mengerti apa yang diucapkannya, tapi orangtua biasanya bisa memahami kata-kata tersebut.
Dibutuhkan kesabaran serta pemahaman mengenai karakteristik si kecil serta nikmati setiap proses yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan anak. Ajaklah ia berbicara sejak dini bahkan saat ia belum bisa mengucapkan kata apapun, karena ini akan mendorongnya untuk belajar berbicara.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)Jakarta, Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya lancar berbicara. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini adalah mendorongnya untuk belajar dan mengetahui standar perkembangan anak. Berikut standar kemampuan berbahasa anak usia di bawah 3 tahun (batita).
Penelitian menunjukkan bahwa 3 tahun pertama adalah waktu yang tepat untuk perkembangan bahasa intensif anak. Para ahli menyarankan untuk mendorong perkembangan bahasa anak di awal-awal kehidupannya melalui berbicara, menyanyi dan membaca.
Hal lain yang bisa memberikan bantuan penting dalam pengembangan bahasa anak adalah mendengarkan apa yang bisa diucapkan si kecil.
Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi patokan dalam mengembangkan kemampuan berbicara anak, seperti dikutip dari eHow, Senin (13/6/2011) yaitu:
1. Usia 5 bulan
Pada saat bayi berusia 1-5 bulan ia mulai belajar mengenai suara keras, mengenali suara-suara yang akrab didengarnya serta menangis untuk berbagai alasan yang berbeda. Setelah bayi berusia di atas 5 bulan maka ia akan memutar kepalanya ke arah suara dan fokus pada wajah orang yang berbicara tersebut.
2. Usia 1 tahun
Umumnya bayi mulai memiliki kesenangan untuk mencoba meniru suara orang lain. Para peneliti dari Mayo Clinic mengungkapkan bahwa bayi mulai mengerti arti kata 'tidak' dan perintah sederhana seperti 'Minumlah susunya sampai habis'. Selain itu ia akan mengeluarkan suara seperti 'Mama' atau 'Dahdah'.
3. Usia 2 tahun
Balita mulai bisa mengucapkan lebih dari 1-2 kata secara bersama-sama, kosakatanya mulai meningkat menjadi 8-10 kata dan ia bisa mengenal kata-kata untuk bagian tubuh seperti menunjuk kepala atau perut. Pada usia ini balita juga lebih jelas mengucapkan suara huruf 'n', 'm', 'p' dan 'h', serta bisa menjawab pertanyaan melalui bahasa tubuh.
4. Usia 3 tahun
Pada usia ini kosakatanya meningkat sekitar 50 kata, mulai menggunakan kata sifat seperti 'besar' atau 'bahagia', menggunakan nada yang meninggi di akhir kalimat serta menggunakan kata ganti. Orang lain yang mendengar balita ini berbicara mungkin tidak terlalu banyak mengerti apa yang diucapkannya, tapi orangtua biasanya bisa memahami kata-kata tersebut.
Dibutuhkan kesabaran serta pemahaman mengenai karakteristik si kecil serta nikmati setiap proses yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan anak. Ajaklah ia berbicara sejak dini bahkan saat ia belum bisa mengucapkan kata apapun, karena ini akan mendorongnya untuk belajar berbicara.
(ver/ir)
Anak Zaman Sekarang Lebih Tinggi Tapi Tak Lebih Sehat
Selasa, 07/06/2011 14:02 WIB
Merry Wahyuningsih - detikHealth
(Foto: thinkstock)Jakarta, Bila dibandingkan dengan generasi 50 tahun lalu, anak-anak zaman sekarang terlihat lebih tinggi. Tapi meski lebih tinggi, ternyata orang dulu terbukti lebih sehat dibandingkan anak-anak sekarang. Mengapa demikian?
"Ada banyak perubahan yang baik untuk kesehatan anak-anak, tetapi ada juga orang-orang yang berpendapat generasi kini kurang sehat dibandingkan orang tua atau kakek-neneknya yang mungkin umurnya lebih pendek, karena sebabnya tingginya tingkat obesitas dan perubahan gaya hidup," jelas Bernard Harris, profesor di Southampton University, seperti dilansir Dailymail, Selasa (7/6/2011).
Pada 50 tahun yang lalu, anak-anak lebih bugar dibandingkan dengan anak-anak sekarang. Dan penelitian yang dipublikasikan bulan lalu menunjukkan, bahkan sepuluh tahun yang lalu mereka juga lebih kuat.
Studi lain menemukan adanya peningkatan jumlah anak-anak sekolah dasar yang menderita rasa sakit tipe rematik karena sering menggunakan ponsel dan game konsol. Padahal pada zaman dulu menurut peneliti, masalah pergelangan tangan dan nyeri jari hanya dialami pasien usia lanjut dengan rematik kronis.
"Rata-rata tinggi anak meningkat antara 1 cm hingga 3 cm setiap dekade selama 50 tahun terakhir. Jadi anak-anak sekarang rata-rata antara 5 cm hingg 15 cm lebih tinggi," kata Profesor Mitch Blair dari Royal College of Paediatrics and Child Health.
Alasan utamanya adalah perbaikan gizi terutama selama kehamilan dan asupan yang lebih baik dari vitamin dan mineral. Ini juga kemungkinan karena penurunan wanita merokok selama kehamilan.
"Tentu saja perbaikan gizi dan penurunan ibu merokok adalah kabar yang sedikit lebih baik. Tapi terjadi pula peningkatan nyeri punggung bawah karena tekanan ekstra pada tulang belakang," kata Dr Gavin Sandercock, ahli kebugaran anak di Essex University.
Menurut Profesor Blair, selain lebih tinggi, anak-anak zaman sekarang juga lebih besar karena memiliki lebih banyak massa otot.
"Namun banyak anak yang menjadi lebih berat karena tidak aktif. Jumlah makanan anak telah menurun selama bertahun-tahun, tetapi mereka makan lebih banyak lemak dan gula dan menjadi kurang aktif dengan munculnya mobil, TV dan remote control," tambah Dr Sandercock.
Pada tahun 1966, BMI rata-rata untuk anak usia 8 tahun adalah 16,55. Dan pada tahun 2007, rata-rata tersebut meningkat menjadi 17,18.
"Berat badan berlebih di sekitar perut, yang dikenal sebagai lemak visceral, bisa memicu diabetes tipe 2. Kami telah mendiagnosa anak-anak 14 tahun dengan diabetes tipe 2, padahal penyakit ini pada 20 tahun lebih banyak dikaitkan dengan usia yang lebih tua," kata Dr Sandercock.
Ada juga puluhan ribu anak-anak di Inggris yang terdiagnosa dengan sindrom metabolik seperti diabetes, pembuluh darah dan penyakit jantung yang hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak dekade lalu.
"Kami juga melihat banyak anak-anak kelebihan berat badan dengan tekanan darah tinggi," kata Dr Sandercock.
Hal-hal inilah yang akhirnya membuat anak-anak zaman sekarang lebih cepat puber, lebih cepat mengalami kekeroposan gigi, penurunan kebugaran yang akhirnya mengurangi usia harapan hidup.
(mer/ir)
Merry Wahyuningsih - detikHealth
(Foto: thinkstock)Jakarta, Bila dibandingkan dengan generasi 50 tahun lalu, anak-anak zaman sekarang terlihat lebih tinggi. Tapi meski lebih tinggi, ternyata orang dulu terbukti lebih sehat dibandingkan anak-anak sekarang. Mengapa demikian?
"Ada banyak perubahan yang baik untuk kesehatan anak-anak, tetapi ada juga orang-orang yang berpendapat generasi kini kurang sehat dibandingkan orang tua atau kakek-neneknya yang mungkin umurnya lebih pendek, karena sebabnya tingginya tingkat obesitas dan perubahan gaya hidup," jelas Bernard Harris, profesor di Southampton University, seperti dilansir Dailymail, Selasa (7/6/2011).
Pada 50 tahun yang lalu, anak-anak lebih bugar dibandingkan dengan anak-anak sekarang. Dan penelitian yang dipublikasikan bulan lalu menunjukkan, bahkan sepuluh tahun yang lalu mereka juga lebih kuat.
Studi lain menemukan adanya peningkatan jumlah anak-anak sekolah dasar yang menderita rasa sakit tipe rematik karena sering menggunakan ponsel dan game konsol. Padahal pada zaman dulu menurut peneliti, masalah pergelangan tangan dan nyeri jari hanya dialami pasien usia lanjut dengan rematik kronis.
"Rata-rata tinggi anak meningkat antara 1 cm hingga 3 cm setiap dekade selama 50 tahun terakhir. Jadi anak-anak sekarang rata-rata antara 5 cm hingg 15 cm lebih tinggi," kata Profesor Mitch Blair dari Royal College of Paediatrics and Child Health.
Alasan utamanya adalah perbaikan gizi terutama selama kehamilan dan asupan yang lebih baik dari vitamin dan mineral. Ini juga kemungkinan karena penurunan wanita merokok selama kehamilan.
"Tentu saja perbaikan gizi dan penurunan ibu merokok adalah kabar yang sedikit lebih baik. Tapi terjadi pula peningkatan nyeri punggung bawah karena tekanan ekstra pada tulang belakang," kata Dr Gavin Sandercock, ahli kebugaran anak di Essex University.
Menurut Profesor Blair, selain lebih tinggi, anak-anak zaman sekarang juga lebih besar karena memiliki lebih banyak massa otot.
"Namun banyak anak yang menjadi lebih berat karena tidak aktif. Jumlah makanan anak telah menurun selama bertahun-tahun, tetapi mereka makan lebih banyak lemak dan gula dan menjadi kurang aktif dengan munculnya mobil, TV dan remote control," tambah Dr Sandercock.
Pada tahun 1966, BMI rata-rata untuk anak usia 8 tahun adalah 16,55. Dan pada tahun 2007, rata-rata tersebut meningkat menjadi 17,18.
"Berat badan berlebih di sekitar perut, yang dikenal sebagai lemak visceral, bisa memicu diabetes tipe 2. Kami telah mendiagnosa anak-anak 14 tahun dengan diabetes tipe 2, padahal penyakit ini pada 20 tahun lebih banyak dikaitkan dengan usia yang lebih tua," kata Dr Sandercock.
Ada juga puluhan ribu anak-anak di Inggris yang terdiagnosa dengan sindrom metabolik seperti diabetes, pembuluh darah dan penyakit jantung yang hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak dekade lalu.
"Kami juga melihat banyak anak-anak kelebihan berat badan dengan tekanan darah tinggi," kata Dr Sandercock.
Hal-hal inilah yang akhirnya membuat anak-anak zaman sekarang lebih cepat puber, lebih cepat mengalami kekeroposan gigi, penurunan kebugaran yang akhirnya mengurangi usia harapan hidup.
(mer/ir)
Langganan:
Komentar (Atom)